KECERDASAN KOGNITIF ANAK MELALUI MEDIA LOOSE PARTS CANGKANG KERANG DENGAN PENDEKATAN NILAI-NILAI TAUHID DI RA AL-A’ROF CIREBON
Oleh : 1Warjo, 2Afiyah Tsani Mahmudah,3Widiastuti
ABSTRAK
Kecerdasan kognitif merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia dini, yang mencakup kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan memahami lingkungan sekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan kognitif anak melalui penggunaan media loose parts berbahan cangkang kerang dengan pendekatan nilai-nilai tauhid di RA Al-A’rof Cirebon.
Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus, yang melibatkan 20 anak kelompok B.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan kognitif anak setelah diterapkan pembelajaran berbasis loose parts bernilai tauhid. Anak menjadi lebih aktif, kreatif, dan memiliki kesadaran spiritual terhadap ciptaan Allah SWT.
Kata kunci: kecerdasan kognitif, loose parts, cangkang kerang, nilai tauhid, anak usia dini
PENDAHULUAN
Media loose parts dari bahan alami, seperti cangkang kerang, merupakan salah satu sumber belajar yang mudah dijumpai di daerah pesisir. Walaupun di beberapa daerah ketersediaannya terbatas, di kawasan pesisir utara seperti Muara, jumlahnya sangat melimpah dan sering kali menjadi limbah yang tidak dimanfaatkan. Di sekitar RA Al-A’rof Muara, tumpukan cangkang kerang banyak ditemukan di tempat pembuangan sampah masyarakat. Setiap hari limbah tersebut bertambah akibat aktivitas nelayan yang membuang cangkang setelah mengupas hasil tangkapan lautnya.
Padahal, cangkang kerang memiliki potensi besar untuk dijadikan media pembelajaran berbasis loose parts yang mampu mengembangkan kecerdasan kognitif anak. Penggunaan bahan alami ini sekaligus menjadi bentuk penerapan pendidikan Pendekatan Nilai-Nilai Tauhid , di mana anak-anak belajar menggunakan benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penggunaan cangkang kerang di RA Al-A’rof bukan hanya mendukung pembelajaran kreatif, tetapi juga membantu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan nilai-nilai tauhid dalam mengenal ciptaan Allah SWT.
Konteks Lingkungan dan Sosial RA Al-A’rof
Raudhatul Athfal (RA) Al-A’rof, yang telah terakreditasi BAN PAUD pada tahun 2019, terletak di Blok Karang Anyar RT/RW 01/07 Desa Muara, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sekolah ini berada di tengah masyarakat nelayan yang setiap hari melintasi Sungai Bondet menuju laut untuk menangkap ikan dan kerang. Hasil tangkapan laut tersebut tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga menghasilkan limbah berupa cangkang kerang yang melimpah di lingkungan sekitar.
Sayangnya, sebagian besar limbah ini dibuang sembarangan, baik di tepi sungai maupun di sekitar pemukiman. Akibatnya, terjadi penumpukan yang menimbulkan bau tidak sedap. Padahal, cangkang kerang memiliki nilai seni, nilai ekonomi, dan nilai edukatif yang tinggi apabila dimanfaatkan secara kreatif, salah satunya sebagai media pembelajaran di RA Al-A’rof.
Urgensi Pemanfaatan Cangkang Kerang sebagai Media Pembelajaran
Pemanfaatan cangkang kerang sebagai media loose parts berperan penting dalam mengembangkan kecerdasan kognitif dan naturalis anak usia dini. Melalui kegiatan eksploratif dengan bahan alam, anak belajar mengamati bentuk, warna, tekstur, dan pola, sehingga kemampuan berpikir logis, analitis, serta daya cipta mereka meningkat.
Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru di RA Al-A’rof belum mengoptimalkan pemanfaatan media dari lingkungan sekitar. Alat permainan edukatif (APE) masih terbatas, dan potensi bahan alam seperti cangkang kerang belum dijadikan stimulus utama untuk mengembangkan enam aspek perkembangan anak usia dini, yaitu moral dan agama, fisik motorik, bahasa, kognitif, sosial-emosional, dan seni.
Landasan Filosofis dan Yuridis Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (2002), masa anak usia dini merupakan periode emas untuk menanamkan dasar-dasar kemampuan dasar seperti moral, bahasa, sosial, kognitif, dan spiritual. Oleh karena itu, seluruh potensi anak harus dikembangkan secara menyeluruh dan seimbang.
Selaras dengan hal tersebut, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaan, serta memperoleh pendidikan yang mendukung minat dan bakatnya.
Sebagai lembaga pendidikan formal untuk anak usia 4–6 tahun, RA Al-A’rof memiliki tanggung jawab membantu peserta didik menyiapkan diri menghadapi jenjang pendidikan dasar. Proses pembelajaran di RA sebaiknya menggunakan pendekatan tematik, kontekstual, dan berbasis lingkungan sekitar agar anak belajar secara alami dan bermakna.
Nilai Edukatif dan Ekonomi Media Loose Parts
Pemanfaatan cangkang kerang sebagai bahan pembelajaran memiliki beragam manfaat, antara lain:
- Nilai edukatif – Mengembangkan daya pikir, kreativitas, dan keterampilan motorik anak.
- Nilai etis dan moral – Menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
- Nilai ekonomi – Bahan mudah diperoleh dengan biaya rendah, bahkan dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual tinggi.
Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya belajar konsep kognitif, tetapi juga memperoleh keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan konteks sosial-budaya mereka.
Perspektif Islam tentang Kecerdasan dan Media Pembelajaran
Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia memiliki potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui penggunaan akal dan pengalaman belajar. Dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 242, Allah berfirman agar manusia “menggunakan akalnya untuk memahami” tanda-tanda kebesaran-Nya.
Menurut Muhammad Muhyidin (2010), istilah-istilah dalam Al-Qur’an seperti ta’qilun, yatafakkarun, yatadabbarun, tafqahun, dan tadzakkarun mencerminkan beragam bentuk kecerdasan yang dapat dikembangkan, terutama dalam konteks berpikir, berkreasi, dan merenung terhadap ciptaan Allah.
Dengan demikian, pembelajaran berbasis nilai tauhid melalui media cangkang kerang tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual pada anak.
LANDASAN TEORI
1. Kecerdasan Kognitif Anak Usia Dini
Menurut Piaget (1962), perkembangan kognitif anak usia dini berada pada tahap praoperasional, di mana anak belajar melalui pengalaman konkret. Anak perlu diberi kesempatan untuk bereksperimen dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.
2. Media Loose Parts
Konsep loose parts diperkenalkan oleh Simon Nicholson (1971), yaitu bahan-bahan lepas yang dapat dipindah, dikombinasikan, dan diubah sesuai imajinasi anak. Bahan seperti batu, daun, biji-bijian, atau cangkang kerang dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif.
3. Pendekatan Nilai-Nilai Tauhid
Dalam pendidikan Islam, tauhid merupakan inti dari seluruh aspek kehidupan. Melalui kegiatan belajar yang melibatkan ciptaan Allah, anak diarahkan untuk mengenal dan mensyukuri kebesaran-Nya. Nilai tauhid meliputi tauhid rububiyah, uluhiyah, dan mulkiyatullah yang dapat diinternalisasikan dalam kegiatan bermain dan belajar.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Subjek penelitian terdiri atas 20 anak kelompok B RA Al-A’rof Cirebon. Media pembelajaran yang digunakan adalah loose parts dari cangkang kerang yang dikumpulkan dari lingkungan pesisir.
Langkah-langkah pembelajaran:
1. Pengenalan ciptaan Allah melalui cangkang kerang.
2. Eksplorasi bentuk, warna, dan tekstur kerang.
3. Kegiatan klasifikasi, menghitung, dan menyusun pola menggunakan kerang.
4. Refleksi nilai tauhid: mengenal kebesaran Allah melalui keindahan ciptaan-Nya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum tindakan, kemampuan kognitif anak berada pada kategori cukup berkembang (rata-rata skor 58%). Setelah penerapan media loose parts berbahan cangkang kerang dengan pendekatan nilai tauhid, terjadi peningkatan rata-rata skor menjadi 85% (berkembang sangat baik).
Perubahan positif tampak pada: 1) Anak mampu mengelompokkan dan menghitung benda dengan lebih tepat; 2) Anak menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap alam sekitar; 3) Anak memahami bahwa segala keindahan alam adalah bukti kekuasaan Allah SWT; 4) Kegiatan belajar menjadi lebih bermakna karena terintegrasi antara aspek kognitif dan spiritual.
Tabel 3.1. Penerapan di Kelas
|
Kegiatan |
Aktivitas |
Nilai Tauhid |
|
Mengelompokkan cangkang kerang berdasarkan bentuk dan warna |
Anak belajar mengamati, membandingkan, menghitung |
Mengenal kebesaran ciptaan Allah yang beragam |
|
Membuat pola atau hiasan dari cangkang kerang |
Melatih kreativitas dan koordinasi tangan-mata |
Menyadari bahwa Allah Maha Indah (Al-Jamīl) |
|
Membersihkan dan menyusun kerang |
Melatih tanggung jawab dan kerapian |
Belajar amanah menjaga nikmat Allah |
KESIMPULAN
Penggunaan media loose parts dari cangkang kerang dengan pendekatan nilai-nilai tauhid terbukti efektif dalam meningkatkan kecerdasan kognitif anak di RA Al-A’rof Cirebon. Anak tidak hanya berkembang dalam kemampuan berpikir logis dan kreatif, tetapi juga tumbuh kesadaran tauhid yang kuat. Model pembelajaran ini dapat menjadi inovasi dalam pendidikan Islam anak usia dini yang menyinergikan sains, kreativitas, dan spiritualitas.
SARAN
1. Guru dapat mengembangkan berbagai bentuk loose parts berbahan alam lainnya untuk memperkaya pengalaman belajar anak.
2. Kegiatan eksploratif sebaiknya selalu diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman agar pendidikan anak usia dini menjadi lebih holistik.
3. Perlu penelitian lanjutan untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap aspek sosial-emosional anak.
DAFTAR PUSTAKA
· Nicholson, S. (1971). How Not to Treat Children: The Theory of Loose Parts. Landscape Architecture, 62(1), 30-34.
· Piaget, J. (1962). The Stages of Intellectual Development in Childhood and Adolescence. New York: Basic Books.
· Suyadi. (2017). Teori Pembelajaran Anak Usia Dini dalam Kajian Neurosains. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
· Rahmawati, Y., & Kurniati, E. (2020). Penggunaan Media Loose Parts dalam Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 87-95.
· Hidayat, A. (2021). Pendidikan Tauhid dalam Perspektif Islam. Jurnal Tarbawi, 8(1), 45–56.
. Ilyas,YUnahar (2019). Kuliah akidah Islam, LPT Yogyakarta.
Peran Nilai Pendidikan Agama pada Anak Usia Dini
di RA Al-A’rof Desa Muara
Oleh : 1Warjo, 2R.Sunesih, 3Widiastuti, 4Afiyah Tsani M
1Dosen UNTAG Cirebon,2Guru RA Al-A’rof,3Guru RA Al-A’rof,4Guru RA Al-A’rof
Abstrak
Pendidikan agama pada anak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai Islam. RA Al-A’rof Desa Muara merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana penerapan nilai pendidikan agama Islam di RA Al-A’rof dan dampaknya terhadap perilaku anak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai keagamaan seperti disiplin, kejujuran, dan kasih sayang berdampak positif terhadap perilaku sosial dan moral anak.
Kata Kunci: pendidikan agama, anak usia dini, nilai Islam, RA Al-A’rof
Pendahuluan
Anak usia dini merupakan masa keemasan (golden age) dalam perkembangan manusia. Pada fase ini, segala potensi anak berkembang sangat cepat, sehingga pendidikan pada usia dini sangat menentukan arah pembentukan karakter dan kepribadian anak di masa depan. Salah satu aspek penting dalam pendidikan anak usia dini adalah pendidikan agama, yang menjadi dasar dalam membangun moral dan akhlak mulia.
Pendidikan agama Islam tidak hanya mengajarkan tentang ibadah ritual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan sopan santun. Sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung (2004), tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan beramal saleh.
RA Al-A’rof Desa Muara sebagai lembaga pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan belajar yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangan anak.
Peran Pendidikan Agama dalam Pembentukan Karakter
Pendidikan agama Islam di RA Al-A’rof tidak hanya disampaikan melalui pelajaran formal, tetapi juga melalui pembiasaan dan keteladanan. Setiap pagi anak diajak berdoa bersama, membaca surat pendek, dan melafalkan asmaul husna. Kegiatan ini melatih anak untuk mengenal Allah SWT dan membangun rasa spiritual sejak dini.
Menurut Mansur (2011), pendidikan agama pada anak usia dini harus dimulai dengan pembiasaan, karena pada usia ini anak lebih mudah meniru perilaku dibandingkan memahami konsep abstrak. Oleh karena itu, guru berperan sebagai teladan utama yang menunjukkan perilaku religius dalam keseharian.
Selain itu, nilai-nilai seperti tolong-menolong, berbagi, dan menghargai teman diajarkan melalui kegiatan sosial sederhana di sekolah. Dengan demikian, pendidikan agama di RA Al-A’rof berfungsi sebagai dasar pembentukan karakter islami anak.
Metode Pembelajaran dan Pendekatan
Guru RA Al-A’rof menerapkan metode pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan (PAKEM). Nilai agama disampaikan melalui kegiatan seperti bercerita kisah nabi, bernyanyi lagu islami, menggambar tema keagamaan, dan praktik wudhu serta shalat sederhana.
Pendekatan uswah hasanah (keteladanan) menjadi strategi utama. Guru menjadi contoh nyata dalam perilaku sopan, jujur, dan disiplin. Hal ini sejalan dengan pandangan Zakiyah Daradjat (1996) yang menegaskan bahwa anak belajar lebih efektif melalui contoh konkret daripada nasihat verbal.
Peran Lingkungan Sekolah dan Keluarga
Keberhasilan pendidikan agama tidak terlepas dari sinergi antara lembaga pendidikan dan keluarga. Guru di RA Al-A’rof menjalin komunikasi aktif dengan orang tua melalui pertemuan rutin dan buku penghubung, untuk memastikan pembiasaan keagamaan juga diterapkan di rumah.
Menurut Sujiono (2013), konsistensi pendidikan antara sekolah dan keluarga akan memperkuat internalisasi nilai-nilai moral dalam diri anak. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua menjadi kunci keberhasilan pendidikan agama di usia dini.
Dampak Penerapan Nilai Pendidikan Agama
Hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak di RA Al-A’rof memiliki perilaku sosial yang baik, seperti saling membantu, meminta maaf, dan berdoa sebelum melakukan kegiatan. Mereka juga menunjukkan rasa empati kepada teman dan mulai memahami pentingnya ibadah sederhana.
Hal ini membuktikan bahwa pendidikan agama yang diterapkan melalui pendekatan bermain dan keteladanan berdampak positif pada perkembangan moral, sosial, dan spiritual anak. Nilai-nilai yang tertanam sejak dini akan menjadi fondasi kuat bagi pembentukan karakter di masa depan.
Kesimpulan
Pendidikan agama memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian anak usia dini. Melalui pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara sekolah dan keluarga, nilai-nilai Islam dapat tertanam dengan baik pada diri anak. RA Al-A’rof Desa Muara menjadi contoh nyata bagaimana lembaga pendidikan anak usia dini mampu menanamkan nilai keagamaan secara efektif dan menyenangkan, sehingga melahirkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan cinta terhadap nilai-nilai Islam.
Daftar Pustaka
Daradjat,
Zakiyah. (1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasan Langgulung. (2004). Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka
Al-Husna Baru.
Mansur. (2011). Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sujiono, Yuliani Nurani. (2013). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
PERAN MAJELIS TAKLIM DALAM PEMBERDAYAAN UMKM JAMA'AH MAJELIS TAKLIM AL-A'ROF MUARA
OLEH:
WARJO, S.Sos.,S.Pd.I.,M.Pd.I
Keberadaan Majelis
Taklim bagi para jama’ahnya sebagai Lembaga Pendidikan Non Formal berfungsi untuk
mendapatkan pendalaman pengetahuan Agama Islam menjadi suatu kebutuhan yang
urgen.
Saat ini Majelis Taklim
tidak hanya berfungsi pada nilai- nilai agama, tapi mempunyai berkontribusi
dalam bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, membangun kemampuan masyarakat
sebagai upaya dalam mengoptimalisasikan majelis taklim untuk menghasilkan
pendapatan dan kebutuhannya demi memperbaiki taraf kehidupan Masyarakat Indonesia yang
sejahterah.
Terkait
perkenomian pada khususnya jama’ah (komunitas) Majelis Taklim masih sangat
terbatas, karena kehadiran Majelis Taklim bagi masyarakat Indonesia dalam kontribusi
perkenomian umat, penguatannya baru diundangkan
tentang Majelis Taklim oleh pemerintah peraturan Menteri Agama RI tahun 2019, walaupun eksistensi Majelis Taklim
sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.
Secara strategis majelis Taklim dengan perannya pada pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dan menengah adalah menjaga keutuhan NKRI, mengurangi kemiskinan dan pengangguran, yang telah menjadi masalah bagi negara - negara sedang berkembang, menjamin kebutuhan penuh pangan dan keamanan pangan masyarakat, serta dapat memobilisasi daerah dengan perekonomian yang kuat, dengan demikian secara umum diharapkan mereka komunikas jama’ah di majelis taklim melalui usaha mikro kecil dan menengah kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan merata oleh semua penduduk Indonesia. Usaha Mikro Kecil dan Menenggah di Indonesia sebagian besar merupakan bisnis keluarga dalam kenyataan dilapangan mampu menarik banyak tenaga kerja. Perlu diketahui bahwa menurut data yang dimiliki Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah tercatat di Indonesia ini sejak tahun 2019 ada sekitar 65,4 juta UMKM. Dengan total 65,4 juta unit usaha mampu menampung 123,3 ribu pekerja. Hal ini membuktikan bahwa dampak dan kontribusi UMKM sangat penting dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia.
Peningkatan
partisipasi pekerja UMKM akan membantu memperkecil angka pengangguran. Saat ini
UMKM menunjukkan kecenderungan positif dan jumlahnya terus meningkat setiap
tahunnya. Kecenderungan tersebut akan berdampak positif terhadap perekonomian
Indonesia, yang menunjukkan bahwa UMKM Indonesia memiliki potensi pengembangan
yang besar untuk berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian. Sebagai
pengendali negara, pemerintah dapat membantu UMKM semakin berkembang dan
mendukung UMKM melalui pemberian Kredit
Usaha Rakyat (KUR) secara terukur.
Sumber data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah, pertumbuhan KUR sebesar Rp 178,07 triliun atau sekitar Rp 16,25
triliun pada tahun 2020 dan sekitar Rp 8,16
triliun pada tahun 2021. Hal ini
juga membuktikan bahwa UMKM peserta
sangat membutuhkan suntikan modal untuk mengembangkan usahanya. Melihat neraca
perdagangan Indonesia (NPI) sejak tahun
2020 tercatat sebesar USD 21,74 miliar dan merupakan tertinggi nilai dari tahun
2012. Nilai tersebut tidak sebanding dengan kontribusi UMKM terhadap ekspor
hanya sebesar 14,37, nilai yang jauh lebih rendah dibandingkan negara- negara
Asia lainnya seperti Singapura( 41), Malaysia ( 18), Thailand (29), Jepang (5) dan Tiongkok (60).
Pada dokumen Pusat
Investasi Pemerintah (PIP) dan Badan Kepegawaian, bahwa alokasi usaha mikro
sejak tahun 2017 sampai dengan tahun 2022 telah mencapai Rp 26,2 triliun untuk
7,4 juta debitur dalam rentang waktu tersebut. Hal ini membuktikan masih banyak
usaha mikro yang belum mendapatkan dukungan KUR dari pihak Bank. Pemerintah
Indonesia semestinya memihak dan lebih fokus pada stakeholder UMKM agar
kegiatan pemberdayaan pengembangan permodalan dan kapasitas usahanya dapat
dengan mudah terukur pencapainnya.
Bidang UMKM yang
terbukti nyata mampu menampung pekerja dalam kapasitas besar dan juga menjadi
jawaban realistis dalam memperkecil angka pengangguran. Kecenderungan positif
ini harus berkelanjutan mempertahankan bidang UMKM skala besar untuk
menyelesaikan pengangguran. Sesuai amanat UU Dasar 1945 menyatakan bahwa
pemerintah harus melindungi seluruh masyarakat Indonesia, meningkatkan taraf
hidup bangsa, mencerdaskan rakyat dan
dalam pelaksanaan pembangunan
sosial menjadi satu kesatuan yang utuh.
Peningkatan dalam
merealisasikan keteraturan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Mengaitkan pemberdayaan UMKM
untuk resolusi negara, mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan bagaimana
negara berupaya meningkatkan kesejahteraan umum melalui pemberdayaan UMKM.
Besarnya peluang
berusaha atau berwirausaha melalui Lembaga Majelis Taklim memiliki keunikan
tersendiri. Lembaga yang pada awal keberadaannya hanya terbatas pada kegiatan
penguatan nilai keagamaan (Islam), sekarang setelah lahirnya undang -undang
Majelis Taklim tersebut menjadi kompleks perannya dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa dengan mendorong/memotivasi jama’ah Majelis Taklim seperti; Perberdayaan
perekonomian keluarga dapat dilakukan melalui lembaga Majelis Taklim.
Pada jama’ah Majelis
Taklim Al-A’rof Muara Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon secara khusus
mengenai kondisi umum pekerjaan bagi jama’ah laki-laki (Ikhwan)
adalah nelayan, dan jama’ah Ibu -ibu (Ummahat)
umumnya berprofesi Ibu Rumah Tangga, walaupun ada yang berwirausaha, namun
prosentasenya sangat kecil.
Sebagai seorang
wanita (Ibu dari anak-anaknya) yang hanya bergantung pada penghasilan dari
suami dengan penghasilan bekerja berlayar sebagai nelayan, cukup memberikan kebahagiaan tersendiri. Adapun
untuk memotivasi jiwa kewirausahaan jama’ah
Majelis Taklim bagi Ibu-ibu bukanlah perkara yang mudah, walaupun sangat menyenangkan
dan menggembirakan karena adanya usaha tambahan untuk meningkatkan perekonomian
keluarga. Bagi mereka sepanjang tidak meninggalkan perannya sebagai seorang
istri yang solehah yaitu mengurus keluarga bersama suami dalam keluarga idamannya mendapat penghasilan
dari berwirausaha.
Berwirausaha atau
berbisnis bagi sekelompok atau individu,
kegagalan kadang ditemukan, bahkan untuk
bangkit berwirausaha lagi sangat memberatkan, hal itu disebabkan belum
tertanamnya jiwa berwirausaha yang kokoh.
Memotivasi ibu – ibu jama’ah Majelis Taklim mengokohkan jiwa
berwirausaha sangat penting sekali sebelum mereka terjun langsung pada kegiatan
berwirausaha/berbisnis, sehingga diharapkan hambatan-hambatan dapat diatasi, karena
berwirausaha (berbisnis) merupakan pekerjaan perlu keseriusan dan fokus
menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam menjalankan usahanya.
Kadang banyak
modal diberikan oleh pemerintah dengan modal hibah untuk berwirausaha, tetapi belum memiliki jiwa wirausaha juga
menjadi masalah. Mengawali usahanya sebagai pemula, tidaklah mudah, maka
motivasi jiwa kewirausahaan perlu dimiliki terlebih dahulu, walaupun langsung berwirausaha
juga banyak yang sukses dalam berbisnis/berwirausaha.
Motivasi
menumbuhkan jiwa kewirausahaan (berbisnis) bagi jama’ah Majelis Taklim AL-A’rof
Muara sangat diperlukan untuk mempertahankan keberkelanjutan. Memotivasi untuk
membangun semangat, dan gairah berbisnis/berwirausaha menjadi tantangan dalam
meningkatkan jiwa kewirausahaan UMKM yang tepat menjadi kunci keberhasilan di masa
depan.
Reference :
Aufar. (2014). Penelitian” Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Penggunaan Informasi Akuntansi Pada UMKM (Survei Pada Perusahaan Rekanan PT.
PLN (Persero) Di Kota Bandung)”. . bandung.
Indonesia,
Permen Agama RI nomor 29 tahun 2019 , Tentang Majelis Taklim. Di Akses tgl
13/11/2024 Jam 8.51 WIB
Jaringan, K. B. (2024, Agustus 08). Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) Dalam jaringan. Retrieved from Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) Dalam jaringan: https://kbbi.web.id/taklim
WEB.
https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/lubuksikaping/id/data-publikasi/artikel/3134-kontribusi-umkm-dalam-perekonomianindonesia.html, tgl 13/11/2024 Jam 8.51 WIB

